Srihartati06’s Blog


Kukenal Dirimu : Diam & Malu
March 8, 2010, 3:56 am
Filed under: Buku, Pribadi, Uncategorized

Malam itu,

kukenal dirimu dalam diam dan malu

Rembulan sembunyikan semburat merah wajahku

Semburat jengah…

Karna di sampingmu

Lidah tak banyak bertutur

Tapi hati ini…

Debar ini…

Lebih dari cukup

tuk ungkapkan segalanya



Aku, di hari ini
January 12, 2010, 1:18 am
Filed under: Uncategorized

Hari ini,,,

DAHIku tidak berkerut-kerut oleh pikiran dan kepedihan seperti beberapa hari yang lalu.

BIBIRku tidak mengerucut oleh kejengkelan dan kemarahan seperti kemarin.

MUKAku tidak lagi tertekuk penuh beban dan BeTe-an seperti waktu-waktu yang lewat.

TUBUHku tidak lagi lesu karena keputusasaan dan kehilangan harapan.

Sungguh, aku makin berbeda hari ini!

Coba perhatikan…

MATAku bersinar-sinar oleh kegembiraan.

BIBIRku merekah lebar oleh senyum ketulusan.

PIPIku merona merah oleh semangat pengharapan.

URAT-URAT WAJAHku santai memancarkan aura keridhaan

Hmm…

Ada kalanya kita benci diri sendiri.
Ada kalanya kita melakukan kesalahan.
Ada kalanya kita terpuruk dalam kepedihan sendiri.
Ada kalanya kita tidak menyukai apa yang kita lakukan.
Ada kalanya perjalanan menjadi demikian berat kita rasakan.

Tapi, hari ini.. pundakku terasa sedikit lebih ringan.

berbeda:-)

alhamdulillaah…



That’s What Friend are For
March 19, 2009, 10:30 am
Filed under: Uncategorized

Kamis, 29 Januari 2009

Malam itu, seperti yang sudah-sudah, saya mengetuki pintu kamar-kamar yang ada di lantai dua Asrama Padjadjaran. Mengajak untuk sholat ‘isya berjamaah. Biasanya saya ketuk satu per satu pintu kamar tersebut, tapi karena sekarang sedang liburan UAS, alhasil hanya beberapa kamar yang saya sambangi. Kamar orang-orang yang memang menghabiskan liburannya di asrama. Alasannya macam-macam. Entah karena memang liburan kali ini ada kegiatan di Jurusan/Fakultas, nilai ujian yang harus diperbaiki, tugas-tugas kuliah yang harus dilengkapi, atau memang sengaja tinggal di asrama saja, “Di rumah juga gak ada kerjaan”, begitu kira-kira alasannya. Juga ada beberapa anak Fakultas Kedokteran yang memang sejak awal Januari kemarin sudah masuk kuliah lagi. Dan hasilnya, malam itu, ada 10 kamar yang terlihat lampunya menyala terang. Karena satu kamar rata-rata dihuni dua orang, saya asumsikan maksimal ada 20 orang di lantai dua Asrama ini. Walaupun belum tentu juga asumsi saya tepat, karena mungkin saja dalam satu kamar, tidak lengkap kedua penghuninya ada. Kamar-kamar yang menyala terang itu adalah: Satu kamar anak Fakultas Kedokteran Gigi, enam kamar anak Fakultas Kedokteran, dan tiga kamar anak Jurusan Kimia, yang sedang sibuk mempersiapkan acara “Chemistry Fun Days” -satu Lomba Cepat Tepat Kimia untuk siswa SMA-.

Singkat cerita, saya pun memulai aksi saya mengetuki pintu, sambil sesekali meneriakkan jargon saya, “Akhwat, sholat yuuu…”. Satu per satu kamar saya telusuri, sampai akhirnya saya tiba di depan pintu salah satu kamar, pintunya terbuka lebar, dan tampak banyak sandal khas Tasikmalaya berserakan di luarnya. Saya melongok ke dalam. “Sholat yuu…”, ujar saya sambil melangkah masuk melewati pintu kamar yang terbuka lebar. Sekilas pandang, saya melihat lima orang sedang duduk melingkar di atas karpet. Masing-masing memegang piring, berisikan nasi dan lauk yang seragam, dan cukup sederhana. Ya, cukup sederhana. Seonggok mie goreng dan mustofa –bahasa Sunda untuk masakan Kentang kering bumbu balado. Masakan ini memang favorit anak kost karena bisa tahan sampai lebih dari dua minggu. Biasanya dibuat Ibu di rumah, dimasukkan ke dalam toples, untuk kemudian dibawa mahasiswa ke kostannya sebagai ’perbekalan’ makanannya selama di perantauan-. Mendengar ajakan saya, sontak mereka menjawab, “Iya Teh, bentar ngabisin makan dulu, sedikit lagi”. Mendengar jawaban mereka, saya pun mengangguk, kemudian duduk di tepian ranjang, mengamati, sambil menunggu mereka menghabiskan makanan yang memang tinggal sedikit lagi.

 

Beberapa menit kemudian,

”Wi, makasih ya makanannya, kalo gak dikasih Wi, gak tau deh kita malam ini makan apa.”, Ujar salah seorang, sambil bangkit berdiri.

”Iya Wi, makasih ya mustofa sama mie gorengnya. Dian juga, makasih ya nasinya.”, Ujar yang lainnya, sambil membereskan piring-piring yang sudah bersih dari makanan.

”Iya, gak papa atuh, mumpung ada. Kalo gak ada mah, Wi juga gak bisa ngasih apa-apa kali”, seseorang yang dipanggil Wi menjawabnya sambil tersenyum tulus.

 

Spontan, bulu kuduk saya berdiri mendengar lantunan percakapan itu. Batin saya terenyuh. Di depan mata kepala saya sendiri, saya melihat potongan drama kehidupan penuh ketulusan dari adik-adik angkatan saya ini.

Rasulullah sendiri mengajarkan dalam salah satu hadits sahihnya, ”Makanan satu orang cukup untuk dua orang, makanan dua orang cukup untuk empat orang dan makanan empat orang cukup untuk delapan orang.”(HR Muslim).

 

Tentang adik-adik saya ini, betapa kebersamaan, persaudaraan, dan pengorbanan begitu kuat mengakar pada jiwa-jiwa mereka. Mereka tak mengenal kata egoisme, mau enak sendiri, atau istilah-istilah yang semacamnya. Tidak. Mereka tidak mengenalnya. Mereka hanya tau, bahwa pada saat salah seorang teman mereka mengalami kesulitan, maka uluran tangan kitalah -sebagai teman terdekatnya- yang seharusnya pertama kali membantunya. Seharusnya kita tau kesulitan-kesulitan teman kita bahkan tanpa dia perlu bercerita kepada kita. Saat dia kesulitan uang –terutama di akhir bulan, seperti saat ini-, saat tidak ada makanan untuk disantap, dan di saat-saat sulit yang lainnya. Seharusnya kita tau. Ya, seharusnya kita tau, tanpa harus diberitau.

That’s what friend are for.

 

Ah. Tentang kebersamaan ini, terus terang, saya tidak berani terlalu jauh berujar. Saya pun masih perlu banyak belajar.

 

 

Sri a.k.a Enci

di dinginnya malam, di asrama Padjadjaran



Pamuka
March 19, 2009, 10:22 am
Filed under: Uncategorized

-Suatu sore, di sela-sela kegiatan lab activity di kampus-

“Ci, punya blog gak?”, tanya seorang temanku. Saat itu saya sedang membaca-baca modul untuk kegiatan laboratorium. Mendengar pertanyaan itu, sontak saya terhenyak. Menulis, memang saya suka. Menulis apa saja. Tapi saya belum pernah terpikir untuk kemudian membuat blog pribadi dan mempublikasikannya kepada khalayak ramai. Selama ini, saya hanya menyimpan tulisan-tulisan saya dalam sebuah gudang bernama folder ’tutulisan’ di drive E komputer saya yang sekarang size-nya sudah mencapai 48,3 MB. Tidak lebih. Kebanyakan tulisan-tulisan saya bertemakan catatan harian, ’ibroh dari kejadian yang saya temui, surat-surat untuk seorang sahabat di luar Pulau Jawa, sedikit artikel kedokteran Islam, dan tentu saja tak ketinggalan, tulisan-tulisan tugas kuliah saya –learning issue tea-. Hehe. Yup. Itu saja. Mengenai tulisan tentang surat untuk sahabat saya itu, dipikir pikir, masih usum nya susuratan, udah jamannya email & sms kaya’ gini, tapi sahabat saya itu dengan bijaknya selalu berargumen, ”GPP Ci, komunikasi lewat surat itu, lebih terasa feel-nya, ada yang bisa dibaca setiap saat, membiasakan tulisan biar bagus juga.”. Thoyib, tentang sahabat saya yang bijak ini, akan dibahas lebih detail di tulisan-tulisan yang lainnya, Insya Alloh.
Kembali ke laptop. Setelah dipikirkan dan dipertimbangkan masak-masak selama beberapa menit, dilihat baik-buruknya, akhirnya saya membuat satu keputusan yang cukup besar dalam sejarah hidup saya. Ya. Saya akan membuat sebuah blog!
Dan inilah, blog yang sedang teman-teman lihat sekarang.




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.